Wanita dan Usia 30, Review Drama Nothing But Thirty

It’s been ages rasanya sejak terakhir kali aku menonton Drama China, Meteor Garden (itu juga Taiwan ya, btw). Setelah itu ga nonton drama lagi karena jaman SMA sibuk main persiapan lulus.

Semaraknya layanan streaming film kali ini ternyata membuatku kembali menonton lagi. Pertama kalinya mengunduh aplikasi Disney Hotstar, lalu kemudian karena hype Layangan Putus aku unduh juga WeTV. Ternyata aku DNF karena terlalu gemes sama ceritanya, pas lagi hamil pula, jadi mending stop daripada kebawa ke janin 😅.

Racun berikutnya dari WeTV datang dari kakakku, dia cerita tentang drama China yang seru dan ga menye-menye, judulnya Cupid’s Kitchen. Well, I was hooked.

Selesai nonton drama 40 episode itu, aku bertemu dengan drama lain yang menarik hati dari judul dan sinopsisnya: Nothing But Thirty. Kisah drama ini adalah tentang 3 perempuan yang berteman dan sedang menyongsong usia 30 tahun. Premisnya menarik, apalagi aku butuh tontonan untuk menemani begadang saat terbangun abis menyusui anak yang baru lahir. So.. here we go.

Sinopsis

Poster Nothing But Thirty (IMDB)

Apa sih spesialnya usia 30? Tokoh 1, Wang Manni, adalah seorang wanita yang berasal dari sebuah kota kecil dan mengejar impiannya di Shanghai dengan bekerja sebagai sales di toko fashion high end. Bagi Manni, Shanghai adalah tempat untuknya, meskipun orang tuanya keberatan untuk merantau karena mereka ingin Manni tinggal di kota asal dan menikah. Persoalan menikah ini adalah hal yang selalu didesak ke Manni hingga iapun berjanji ke orang tuanya jika ketika usia 30 tahun hidupnya masih belum ada kemajuan dalam berkarier di Shanghai maupun belum menikah, dia akan pulang memenuhi permintaan orang tuanya.

Kisah Manni menjadi menarik ketika suatu hari ia bertemu dengan seorang lelaki yang merupakan gambarannya sebagai “lelaki impian”. Gayung bersambut, lelaki inipun terlihat tertarik juga dengan Manni. Kisah mereka berlanjut namun ternyata begitu banyak hal tak diduga terjadi setelah pertemuan mereka yang mempengaruhi karier Manni bahkan mengubah impiannya.

Kisah perjalanan Manni diwarnai pertemanannya dengan Gu Jia dan Zhong Xiaoqin, dua wanita yang juga sedang menanti usia 30 mereka.

Gu Jia, wanita menikah beranak satu dan juga seorang pebisnis yang membantu suaminya di perusahaan Kembang Api. Kisahnya menjadi menarik ketika terlibat dengan perkumpulan wanita sosialita yang menurutnya, akan menjadikan kehidupannya menjadi lebih mudah karena koneksi yang ia punya. Little did she know, perkumpulan ini penuh intrik dan membuatnya melakukan hal-hal yang menurut suaminya membuat ia berubah.

Lain Gu Jia lain lagi Zhong Xiaoqin. Xiaoqin adalah seorang wanita yang sejak dulu hidup sesuai dengan apa yang orang tuanya harapkan kepadanya. Ia menikah dengan seorang editor video stasiun berita dan hingga pernikahan menginjak tahun ke-3 mereka belum memutuskan untuk memiliki anak. Plot twist terjadi ketika tak sengaja Xiaoqin hamil tanpa direncanakan. Inilah awal mula konflik kisah rumah tangga mereka.

Usia 30, Titik Puncak Pencapaian?

Konflik yang terjadi di kehidupan ketiga tokoh ini menggambarkan pergulatan yang umumnya terjadi pada wanita di usia 30 di Asia. Wanita pada usia 30 secara sosial umumnya sudah menikah, memiliki anak, atau jika fokus pada karier maka kariernya mestilah sudah mapan atau secara ekonomi sangat baik. Jika belum menikah pada usia 30 maka dianggap telat menikah. Jika telah menikah namun belum ada anak maka dianggap bermasalah. Jika berkarier namun karier masih begitu saja, maka seakan sudah dipastikan kariernya akan biasa-biasa saja hingga nanti. Peran keluarga juga sangat besar di sini, orang tua akan mengingatkan anak, bahkan kadang hingga membantu (cenderung intervensi) agar anak mencapai titik yang “diharapkan oleh society”.

Namun apakah dengan mencapai titik yang dikatakan “sukses” ini lantas membuat hidup selesai? Happy ever after? Di drama sepanjang 43 episode ini konfliknya digambarkan senyata mungkin setelah para tokoh menjalani hidup yang “menurut standar masyarakat”.

Apa Yang Menarik Dari Drama Ini

Hal yang paling aku sukai adalah para tokoh memerankan karakternya senatural mungkin dan cara storytelling yang tidak terlalu dramatis atau “dreamy” namun terasa begitu akrab di kehidupan penonton. Selama nonton aku merasa bisa mengenali siapa Manni, Gu Jia, dan Xiaoqin di hidupku yang kukenal. Bahkan aku bisa merasakan keterkaitan dengan salah satu tokoh utamanya karena ada kemiripan cerita hidup.

Aku jadi tahu bahwa ternyata pergulatan yang kebanyakan dialami di perempuan seusia para tokoh tidak hanya dialami di Indonesia, ternyata di China pun begitu. Apakah ini tipikal kebudayaan Asia? Bisa jadi.

Akting paling menarik untukku datang dari Tong Yao, pemeran Gu Jia. Penokohannya yang menarik ditunjang akting Tong Yao membuatku terpaku dengan serial ini walaupun panjangnya 43 episode :)) Untuk drama ini Tong Yao, yang dijuluki Zhang Ziyi muda, diganjar penghargaan Magnolia Awards 2021 kemarin sebagai Best Actress. Oh let’s not forget aktor-aktor yang memerankan para suami yang good looking dengan strength dan flaws masing-masing. Menurutku mereka patut diacungi jempol.

Zhang Ziyi VS Tong Yao (https://inf.news/en/entertainment/0b6bc212d7e300e566d879aa954dc7ae.html)

Secara visual aku suka banget dengan color gradingnya. Warnanya pop out tapi ga bikin sakit mata, hangat, pas untuk market audiensnya yaitu wanita. Sesuai untuk menggambarkan kesan drama yang ingin ditampilkan.

Salah satu scene di Episode 1

Hal Yang Bisa Diperbaiki

Ada beberapa scene yang terasa lambat di episode-episode anti klimaks, rasanya bila dihilangkan pun tidak mempengaruhi jalan cerita. Niatnya mungkin ingin menggambarkan “kenapa” terjadi perubahan internal tokoh utama, namun jadi bertele-tele. Tapi overall masih oke untuk ditonton kok. Selain itu untuk scoring lagu aku merasa ga begitu cocok seleraku. Andai aja scoringnya bisa seperti Drama Korea yang sering on point dalam memilih lagu.

Kesimpulan

Relatable dan down to earth, itu kesimpulan yang aku dapatkan dari drama ini. Kisahnya yang akrab dengan keseharian dan ceritanya yang ga terlalu “too good to be true” bisa dijadikan hiburan di akhir hari terutama buat para mamah. Episodenya emang panjang, tapi worth to watch kok.

Tonton It’s Thirty atau dalam bahasa Indonesia “Kisah Usia 30” di WeTV dan Vidio, gratis. Ada yang sudah nonton juga moms? Atau ada rekomendasi film lain?

Bahasa Oh Bahasa…

Sebagai anak kolong (istilah untuk anak TNI-POLRI jaman doeloe) saya lahir dan tumbuh di berbagai daerah berbeda di Indonesia. Ini merupakan keuntungan karena saya jadi “terpaksa” ikut merantau dengan orang tua untuk tugas yang jadinya membuat saya mengenal berbagai suku, kebudayaan, serta belajar berinteraksi dengan penganut agama lain. Hal seru lainnya juga jadi kenal tempat wisata dan makanan daerah setempat. Sayang dulu belum ada IG bahkan ponsel jadi kenangan ini hanya ada di album foto yang sudah mulai berganti warnanya.

Salah satu keseruan dan tantangan dalam merantau adalah : belajar bahasa daerah setempat. Apalagi bila merantau ke pulau seberang, yang notabene jenis bahasanya berbeda jauh dengan bahasa daerah sendiri. Kebiasaan masyarakat, kuliner, serta bahasa menjadi tantangan sendiri dalam beradaptasi di sana.

Seperti dua cerita berikut ini:

Serabi Seep

https://pesonaindonesia.kompas.com/read/2019/05/27/181900227/serabi-khas-bandung-jajanan-jadul-kini-modern

Pagi itu sepasang suami istri paruh baya menikmati udara pagi menelusuri jalan setapak di Dago Atas, Bandung. Sang istri melihat ada seorang ibu penjual serabi khas Bandung di pinggir jalan lalu iapun meminta sang suami menunggu sebentar untuk membeli serabi tersebut.

Istri menghampiri dan mulai memesan serabinya ke ibu tersebut. Sang ibu penjual sedang sibuk menyiapkan beberapa serabi yang tampaknya sudah dipesan oleh pembeli lain.

Istri : “Bu, serabinya 2 ya”

Ibu Penjual : “Seep, neng”

Istri : “Oya ga apa, saya tunggu, Bu”

Ibu Penjual : “Seep neng, seep”

Istri : “Iya bu gapapa, saya tungguin di sini”

Ibu Penjual menggelengkan kepala lalu melanjutkan menyiapkan serabi. Selesai membungkus semua serabi yang ia kerjakan iapun berbenah. Sang Istri terkejut karena pesanannya tidak dibikin padahal sudah menanti sejak tadi. Ia bertanya kepada sang ibu dengan nada protes.

Istri : “Lho, Bu, serabi saya mana??!”

Ibu Penjual : “Seep nenggg… HABIS”

Istri : “Oohh!! Seep itu habissss, saya pikir ibu suruh nunggu!”

#tepokjidat

Begitulah, percakapan antara pembeli yang berasal dari Palembang dan Gorontalo dengan penjual dari Bandung. Jembatan bahasa memang tidak mudah diseberangi.


Buah Kok Amis?!

Photo by The Grand Cheese Master on Unsplash

Kembali lagi ke kisah antara sepasang suami istri paruh baya dari pulau seberang yang sedang merantau ke tanah Sunda. Suatu hari di pasar lokal, sang istri yang berniat membeli buah menghampiri penjual buah mangga.

Istri : “Pak, Mau ya mangganya 1kg, mau yang manis ya” (Mengambil 1 mangga dari tumpukan dan mencium aromanya)

Penjual : “Iya neng”

Sang suami menghampiri dan ikut melihat mangga lalu bertanya dengan bahasa Sunda. Kebetulan sang suami dulu pernah tinggal beberapa lama di Bandung sehingga tidak asing baginya menggunakan bahasa Sunda.

Suami : “Pak, amis teu?”

Penjual : “Amis atuh!”, jawab penjual dengan polosnya sambil memilihkan mangga.

Sang istri yang mendengar percapakan tersebut kaget dan merasa tertipu. Kok tadi dibilang manis sekarang amis???

Istri : “Eehh Pak saya mintanya yang manis ya! Kalo amis ini saya ga mau!”

Penjual melongo, sang suami tertegun lalu tertawa.

Suami : “Amis itu bahasa Sundanya manis, Ma”

#nyumputdikeranjang


Kedua kisah tersebut di atas berdasarkan cerita nyata orang tua saya yang kala itu pindah ke Bandung untuk bertugas. Ayah yang dulunya pernah bertugas lama di Bandung saat muda lebih hapal bahasa Sunda daripada ibu saya yang belum pernah sama sekali tinggal di Bandung, maka terjadilah miskomunikasi tersebut.

Namun pengalaman seperti ini justru memudahkan kita dalam belajar bahasa karena kesan yang ditinggalkan memperkuat ingatan kita. Jadi mari berbicara untuk melatih bahasa kita dan perbanyak pengalaman bertemu “serabi seep” dan “mangga amis”nya 😀

Tulisan ini saya buat untuk Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan September dengan tema Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup dalam rangka menyambut Hari Aksara Internasional yang jatuh pada hari ini yaitu 8 September 2021.

Cinta Indonesia

Aku: “Sebutin satu hal yang membuat kamu cinta Indonesia”

Suami : “Kebudayaannya. Orangnya ramah”

Aku: “Udah? Itu aja?”

Suami: “Iya kan cuma 1??”

Aku: “Aku sih lainn… Kalo aku cinta Indonesia karena di sini aku bertemu jodohkuu yaitu kamu uwuu”

#nemplokditiangbendera

DIRGAHAYU INDONESIA KE-76! JAYA SELALU ❤